Posko Zakat di Masjid Darurat

Ilustrasi 8 Penerima Zakat

Alhamdulillah, sekarang  penghuni Perumahan Vila Gading Permai, Parung dapat menikmati kemudahan menunaikan zakat fitrah karena sudah ada tempatnya, yaitu di “Masjid Darurat” tempat yang biasa dijadikan lokasi berkumpul dan melakukan kegiatan selama Ramadhan seperti buka puasa bersama, shalat berjamaah dan rapat.

Petugas yang ditunjuk sebagai penerima zakat adalah :

1. Pak Mumu

2. Pak Maki

3. Pak Maryu

4. Pak Dindin

Kapan teman – teman bisa bertemu mereka untuk menyalurkan zakatnya ? Bisa setelah shalat Tarawih atau setelah Shalat Subuh, datang saja langsung ke lokasi dan teman – teman akan dilayani dengan ramah oleh mereka, kalau berhalangan silahkan sms atau telepon, insya Allah para petugas akan datang kerumah Anda.

Bagi yang ingin berinfak atau Shodaqoh, Pak Maryu bekerja sama dengan PKPU akan menerima dan menyalurkannya kepada yang berhak menerimanya, jadi tunggu apalagi ? berbagai kemudahan Alhamdulillah sudah Allah berikan tinggal action!

Lokasi

FIQIH ZAKAT
Etimologi – Secara harfiah zakat berarti “tumbuh”, “berkem­bang”, “menyucikan”, atau “membersihkan”. Sedangkan secara terminologi syari’ah, zakat merujuk pada aktivitas memberikan sebagian kekayaan dalam jumlah dan perhitungan tertentu untuk orang-orang tertentu sebagaimana ditentukan.

Sejarah Zakat

Setiap umat Muslim berkewajiban untuk memberikan se­dekah dari rezeki yang dikaruniakan Allah. Kewajiban ini tertulis di dalam Al-Qur’an. Pada awalnya, Al-Qur’an hanya memerintah­kan untuk memberikan sedekah (pemberian yang sifatnya bebas, tidak wajib). Namun, pada kemudian hari, umat Islam diperin­tahkan untuk membayar zakat. Zakat menjadi wajib hukumnya sejak tahun 662 M. Nabi Muhammad melembagakan perintah zakat ini dengan menetapkan pajak bertingkat bagi mereka yang kaya untuk meringankan beban kehidupan mereka yang miskin. Sejak saat ini, zakat diterapkan dalam negara-negara Islam. Hal ini menunjukan bahwa pada kemudian hari ada pengaturan pemberian zakat, khususnya mengenai jumlah zakat tersebut.

Pada zaman khalifah, zakat dikumpulkan oleh pegawai sipil dan didistribusikan kepada kelompok tertentu dari masyarakat. Kelompok itu adalah orang miskin, janda, budak yang ingin mem­beli kebebasan mereka, orang yang terlilit hutang dan tidak mam­pu membayar. Syari’ah mengatur dengan lebih detail mengenai zakat dan bagaimana zakat itu harus dibayarkan. Kejatuhan para kalifah dan negara-negara Islam menyebabkan zakat tidak dapat diselenggarakan dengan berdasarkan hukum lagi.

Hukum Zakat

Zakat merupakan salah satu[rukun Islam], dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya [syariat Islam]. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk dalam kategori ibadah, seperti: salat, haji, dan puasa yang telah diatur secara rinci dan paten berdasarkan Al-Qur’an dan As Sunnah,sekaligus merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan ummat manu­sia.

Macam-Macam Zakat

Zakat terbagi atas dua tipe yakni:

1. Zakat Fitrah

Zakat yang wajib dikeluarkan muslim menejelang Idul Fitri pada bulan Ramadhan. Besar Zakat ini setara dengan 2,5 kg makanan pokok yang ada di daerah yang bersangkutan.

Zakat Fitrah

2. Zakat Maal ( Harta )

Mencakup hasil perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, harta temuan, emas dan perak. Ma­sing-masing tipe memiliki perhitungannya sendiri-sendiri.

Yang berhak menerima Zakat :

Ilustrasi 8 Penerima Zakat

• Fakir dan Miskin

Siapakah yang disebut fakir dan miskin ?

Terdapat beragam definisi mengenai kata fakir dan miskin, tapi secara umum fakir dan miskin itu adalah mereka yang kebutuhan pokoknya tidak tercukupi sedangkan mereka se­cara fisik tidak mampu bekerja atau tidak mampu memperoleh pekerjaan. Golongan ini dapat dikatakan sebagai inti sasaran zakat (Hadits: zakat yang diambil dari orang kaya dan diberi­kan kepada orang miskin).

Selanjutnya kita dianjurkan pula untuk lebih memperhati­kan orang-orang miskin yang menjaga diri dan memelihara ke­hormatan. Sesuai hadits: “Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling minta-minta agar diberi sesuap dua suap nasi, satu dua biji kurma, tapi orang miskin itu ialah mereka yang hidupnya tidak berkecukupan kemudian diberi sedekah, dan merekapun tidak pergi meminta-minta pada orang” (Bukhari Muslim)

Fakir miskin hendaklah diberikan harta zakat yang mencu­kupi kebutuhannya sampai dia bisa menghilangkan kefakiran­nya. Bagi yang mampu bekerja hendaknya diberikan peralatan dan lapangan pekerjaan. Sedangkan bagi yang tidak mampu lagi bekerja (orang jompo, cacat fisik), hendaknya disantuni seumur hidupnya dari harta zakat. Maka jelaslah bahwa tujuan zakat bukanlah memberi orang miskin satu atau dua dirham, tapi maksudnya ialah memberikan tingkat hidup yang layak. Layak sebagai manusia yang didudukan Allah sebagai khali­fah di bumi, dan layak sebagai Muslim yang telah masuk ke dalam agama keadilan dan kebaikan, yang telah masuk ke dalam ummat pilihan dari kalangan manusia.

Tingkat hidup minimal bagi seseorang ialah dapat me­menuhi makan dan minum yang layak untuk diri dan keluar­ganya, demikian pula pakaian untuk musim dingin dan musim panas, juga mencakup tempat tinggal dan keperluan-keper­luan pokok lainnya baik untuk diri dan tanggungannya. Wah, tentunya banyak sekali harta zakat yang harus dikumpulkan, sementara ini ummat Islam, ambil contoh di Indonesia, masih sangat minim dalam menunaikan kewajiban ini.

• Amil

Amil merupakan sasaran berikutnya setelah fakir miskin (9:60). Amil adalah mereka yang melaksanakan segala kegiatan urusan zakat, dimana Allah menyediakan upah bagi mereka dari harta zakat sebagai imbalan. Dimasukkannya amil sebagai asnaf menunjukkan bahwa zakat dalam islam bukanlah suatu tugas yang hanya diberikan kepada seseorang (individual), tapi merupakan tugas jamaah (bahkan menjadi tugas negara). Zakat punya anggaran khusus yang dikeluarkan daripadanya untuk gaji para pelaksananya.

Syarat Amil :

Seorang Muslim
Seorang Mukalaf (dewasa dan sehat pikiran)
Jujur
Memahami Hukum Zakat
Berkemampuan untuk melaksanakan tugas
Bukan keluarga Nabi
Laki – laki
Sebagian ulama mensyaratkan amil itu orang merdeka bu­kan hamba.

Tugas Amil :

Semua hal yang berhubungan dengan pengaturan zakat. Amil mengadakan sensus berkaitan dengan:

Orang yang wajib zakat
Macam – macam zakat yang diwajibkan
Besar harta yang wajib dizakat
Mengetahui para mustahik : jumlahnya, jumlah kebutuhan mereka dan jumlah biaya yang cukup untuk mereka.
Berapa besar bagian buat amil ini :

Amil tetap diberi zakat walau ia kaya, karena yang diberikan kepadanya adalah imbalan kerjanya bukan berupa pertolongan bagi yang membutuhkan. Amil itu adalah pegawai, maka henda­klah diberi upah sesuai dengan pekerjaannya, tidak terlalu kecil dan tidak juga berlebihan. Pendapat yang terkuat yang diambil Yusuf Qardawy adalah pendapat Imam Syafi’i, yaitu maksimal sebesar 1/8 bagian. Kalau upah itu lebih besar dari bagian terse­but, haruslah diambilkan dari harta diluar zakat, misalnya oleh pemerintah dibayarkan dari sumber pendapatan pemerintah lainnya.

• Muallaf :

Mereka yang baru masuk islam dan membutuhkan bantuan un­tuk menyesuaikan diri dengan keadaan barunya.

• Hamba Sahaya yang ingin memerdekakan dirinya.

• Gharimin

Mereka yang berhutang untuk kebutuhan yang halal dan tidak sanggup untuk memenuhinya.

Gharim dapat terbagi dua :

Orang yang berhutang untuk kemaslahatan sendiri (seperti nafkah keluarga , sakit, mendirikan rumah, dll) Termasuk didalamnya orang yang terkena bencana sehingga hartanya musnah. Beberapa syarat Gharimin adalah sebagai berikut :
Hendaknya dia mempunyai kebutuhan untuk memiliki harta yang dapat membayar utangnya.
Orang tersebut berhutang dalam melaksanakan ketaatan atau mengerjakan sesuatu yang diper-bolehkan Syariat.
Hutangnya harus dibayar waktu itu. Apabila hutangnya diberi tenggang waktu dalam hal ini terdapat perbe¬daan pendapat di kalangan ulama apakah orang yang berhutang ini dapat dikategorikan sebagai mus¬tahik.
Kondisi hutang tersebut berakibat sebagai beban yang sangat berat untuk dipikul.
Berapa besar orang yang berhutang harus diberikan ? Orang yang berhutang atas kemaslahatan dirinya harus diberi sesuai dengan kebutuhannya. Yaitu untuk membayar lunas hutangnya. Apabila dia dibebaskan oleh yang memberi hutang, maka dia harus mengembalikan bagiannya itu. Karena dia sudah tidak memerlukannya lagi (untuk membayar hutang). Sesungguhnya Islam dengan menutup utang orang yang berhutang berarti telah menempatkan dua tujuan utama yakni :

Mengurangi beban orang yang berhutang dimana ia selalu menghadapi kebingungan di waktu malam dan kehinaan di waktu siang.

Memerangi riba.
Orang yang berhutang untuk kemaslahatan orang lain. Umumnya hal ini dikaitkan dengan usaha untuk mendamaikan dua pihak yang bersengketa, namun tidak ada dalil syara’ yang mengkhususkan gharimin hanya pada usaha mendamaikan tersebut. Oleh karenanya orang yang berhutang karena melayani kepentingan masyarakat hendaknya hendaknya diberi bagian zakat untuk menutup hutangnya, walaupun dia orang kaya. Jadi bagi kita yang mengambil kredit TV misalnya, tentunya tidak termasuk kaum gharimin yang menjadi sasaran zakat. Karena kita bukannya sengsara karena hutang, tapi justru menikmatinya.
• Fisabilillah

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai definisi “Fisabilillah” yang menjadi sasaran zakat dalam ayat 9:60. Apakah harus digunakan definisi dalam arti sempit yaitu “jihad”, atau definisi dalam arti luas yaitu “segala bentuk kebaikan dijalan Allah”.

Kesepakatan Madzhab Empat tentang Sasaran Fisabilillah.

Jihad secara pasti termasuk dalam ruang lingkup Fisabilillah.
Disyari’atkan menyerahkan zakat kepada pribadi Mujahid, berbeda dengan menyerahkan zakat untuk keperluan jihad dan persiapannya. Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat dikalangan mereka.
Tidak diperbolehkan memberikan zakat demi kepentingan kebaikan dan kemaslahatan bersama, seperti mendirikan dam, jembatan, masjid dan sekolah, memperbaiki jalan, mengurus mayat, dll. Biaya untuk urusan ini diserahkan pada kas baitul maal dari hasil pendapatan lain seperti harta fai, pajak, upeti, dll.
Namun beberapa ulama lain telah meluaskan arti sabilillah ini seperti : Imam Qaffal, Mazhab Ja’fari, Mazhab Zaidi, Shadiq Hassan Khan, Ar Razi, Rasyid Ridha dan Syaltut, dll.

Setelah mengkaji perbedaan-perbedaan pendapat ini, dan juga merujuk pengertian kata fisabilillah yang tertera dalam ayat-ayat Al Qur’an, maka sampailah Yusuf Qardhawi pada kesimpulan sbb :

Pendapat yang dianggap kuat adalah, bahwa makna umum dari sabilillah itu tidak layak dimaksud dalam ayat ini, karena dengan keumumannya ini meluas pada aspek-aspek yang banyak sekali, tidak terbatas sasarannya dan apalagi terhadap orang-orangnya. Makna umum ini meniadakan pengkhususan sasaran zakat delapan, dan sebagaimana hadits Nabi yang berbunyi : “Sesungguhnya Allah tidak meridhoi hukum Nabi dan hukum lain dalam masalah sedekah, sehingga Ia menetapkan hukumnya dan membaginya pada delapan bagian”.

Seperti halnya sabilillah dengan arti yang umum itu akan meliputi pemberian pada orang-orang fakir, miskin dan asnaf-asnaf lain, karena itu semua termasuk kebajikan dan ketaatan kepada Allah. Kalau demikian apa sesungguhnya perbedaan antara sasaran ini dengan sasaran sesudah dan yang sebelumnya? Sesungguhnya Kalamullah yang sempurna dan mu’jiz pasti terhindar dari pengulangan yang tidak ada faedahnya. karenanya pasti yang dimaksud disini adalah makna yang khusus, yang membedakannya dari sasaran-sasaran lain.

Makna yang khusus ini tiada lain adalah jihad, yaitu jihad untuk membela dan menegakkan kalimat Islam dimuka bumi ini. Setiap jihad yang dimaksudkan untuk menegakkan kalimat Allah termasuk sabilillah, bagaimanapun keadaan dan bentuk jihad serta senjatanya.

Kemudian Yusuf Al-Qaradhawy memperluas arti Jihad ini tidak hanya terbatas pada peperangan dan pertempuran dengan senjata saja, namun termasuk juga segala bentuk peperangan yang menggunakan akal dan hati dalam membela dan mempertahankan aqidah Islam. Contoh : “Mendirikan sekolah berdasarkan faktor tertentu adalah perbuatan shaleh dan kesungguhan yang patut disyukuri, dan sangat dianjurkan oleh Islam, akan tetapi ia tidak dimasukkan dalam ruang lingkup JIHAD.

Namun demikian, apabila ada suatu negara dimana pendidikan merupakan masalah utama, dan yayasan pendidikan telah dikuasai kaum kapitalis, komunis, atheis ataupun sekularis, maka jihad yang paling utama adalah mendirikan madrasah yang berdasarkan ajaran Islam yang murni, mendidik anak-anak kaum Muslimin dan memeliharanya dari pencangkokan kehancuran fikiran dan akhlaq, serta menjaganya dari racun-racun yang ditiupkan melalui kurikulum dan buku-buku, pada otak-otak pengajar dan ruh masyarakat yang disahkan di sekolah-sekolah pendidikan secara keseluruhan.

Sebaliknya tidak semua peperangan termasuk kategori sabilillah, yaitu peperangan yang ditujukan untuk selain membela agama Allah, seperti halnya perang yang sekedar membela kesukuan, kebangasaan, atau membela kedudukan.

Kemana dipergunakan Bagian Sabilillah di zaman sekarang ?

Membebaskan Negara Islam dari Hukum orang Kafir.
Bekerja mengembalikan Hukum Islam termasuk jihad Fisabilillah, diantaranya melalui pendirian pusat kegiatan islam yang mendidik pemuda Muslim, mejelaskan ajaran Islam yang benar, memelihara aqidah dari kekufuran dan mempersiapkan diri untuk membela islam dari musuh-musuhnya. Mendirikan percetakan surat kabar untuk menandingi berita-berita yang merusak dan menyesatkan ummat.
• Ibnu Sabil Mereka yang kehabisan biaya diperjalanan.

Yang tidak berhak menerima zakat :

Orang kaya. Rasulullah bersabda,”Tidak halal mengambil sedekah (zakat) bagi orang yang kaya dan orang yang mem¬punyai kekuatan tenaga.” (HR Bukhari).
Hamba sahaya, karena masih mendapat nafkah atau tanggungan dari tuannya.
Keturunan Rasulullah. Rasulullah ber¬sabda, “Sesungguhnya tidak halal bagi kami (ahlul bait) mengambil sedekah (zakat).” (HR Muslim).
Orang yang dalam tanggungan yang berzakat, misalnya anak dan istri.
Orang kafir.

3 thoughts on “Posko Zakat di Masjid Darurat

  1. Alhamdulillah.. Segala Puji bagi ALLAH SWT ar’rahman ar’rahiim Yang Memiliki dan Memberikan Segala Nikmat dan RahmatNya
    INDAHNYA RAMADHAN INDAHNYA KEBERSAMAAN

    • itulah sebabnya pak arif, para sahabat rasulullah menginginkan semua bulan itu adalah bulan ramadhan. Tak terasa kini ramadhan akan meninggalkan kita. Smg tahun depan kita bisa bersua kembali dg ramadhan dan meningkatkan kembali ibadah kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s