Warga Komplek yang Tak Eksklusif

Banyak yang bilang warga komplek itu ekslusif, gak mau berbaur dengan orang kampung sebelah. benarkah? Bisa jadi itu benar, karena kebanyakan orang komplek adalah mereka yang bekerja di kantoran, yang pergi di kala masih gelap dan pulang ketika sudah gelap lagi, jangankan bergaul, melihat matahari di lingkungan rumah sendiri saja hampir tak bisa.

Benar juga, sih, jika kesehariannya memang seperti itu, kapan mau bermasyarakatnya. Eit… tunggu dulu jangan menyamaratakan seperti itu. Buktinya di Perumahan Vila Gading Permai Parung, Bogor (VGP) tak seperi itu. Selain warganya yang akrab dan penuh kebersamaan juga ada beberapa warga komplek yang juga bermasyarakat dengan warga kampung sekitar. Ada beberapa warga komplek yang telah membuktikannya, contohnya:

    1. Ketika ada warga kampung yang meninggal, ada sebagian warga VGP yang bertakziyah. Tentu warga kampung sekitar terheran, karena orang komplek ternyata mau berbaur dengan masyarakat.

ilustrasi

      1. Ada beberapa warga komplek yang ikut meramaikan masjid dan musholla di kampung sekitar. Bahkan ada yang dipercaya untuk sesekali mengimami shalat. Nah loh, apa kata warga kampung sekitar?
ilustrasi

ilustrasi

    1. Ketika berangkat bekerja, disaat motor atau mobil keluar dari gerbang VGP, ada beberapa warga yang menyapa dan mengajak warga kampung yang berjalan kaki untuk dibonceng. Wah, pasti warga kampung sekitar sangat senang.
ilustrasi

ilustrasi

Tentunya masih banyak aktivitas lain yang sudah dilakukankan oleh warga VGP untuk memberikan kesan yang tidak ekslusif terhadap warga kampung sekitar. Semoga, warga VGP dan kampung sekitar hidup dalam naungan keberkahan dari Allah…

2 thoughts on “Warga Komplek yang Tak Eksklusif

  1. Memang dibutuhkan media atau apapun yg menjembatani antara warga sekitar dan kita sbg warga pendatang sehingga tudingan “eksklusivitas” warga VGP bisa kita minimalisir, rasanya predikat itu juga terlalu berlebihan, saya yakin warga VGP jg ingin berbaur dengan mereka. Tapi benar apa yg Mas Maryu utarakan, krn kebanyakan warga VGP itu rata2 pekerja malah sebagian sampai menempuh jarak yg cukup jauh,maka sudah barang tentu waktu luang utk sekedar berbaur sangatlah minim. Jangankan dgn warga kampung sebelah dgn antar warga VGP sendiri jika diadakan pertemuan tidak mencapai 100% yg bisa hadir, contohnya saya- lah. Hal ini krn kesibukan masing2 warga memang berbeda – beda dan minim waktu yg bisa dialokasikan untuk mengintensifkan tingkat hubungan antar warga sendiri. Namun, yakinlah bahwa kita tidak seperti yang mereka tuduhkan. Tapi, hal ini bagus juga untuk masukan, smoga bisa menjadi bahan instropeksi dan mudah2an pula akan ditemukan jalan untuk perbaikan hubungan bagi semua warga, baik warga VGP maupun warga sekitarnya. Insya Alloh……

    Jazakalloh, Mas Maryu sudah mengangkat topik ini, Jadi sedikit melek dan terjaga …….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s