Bagaimana Dengan Patungan Hewan Qurban?

Hukum Berqurban

Para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya, ada yang mengatakan wajib bagi yang memiliki kelapangan rezeki, ada pula yang mengatakan sunah mu’akadah, dan inilah pendapat mayoritas sahabat, tabi’in, dan para ulama.

Ulama yang mewajibkan berdalil dengan hadits berikut, dari Abu Hurairah Radhiallhu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rezeki) dan dia tidak berkurban, maka jangan dekati tempat shalat kami.”  (HR. Ibnu Majah).

Mengomentari hadits ini, berkata Imam Amir Ash Shan’ani Rahimahullah:

“Hadits ini dijadikan dalil wajibnya berkurban bagi yang memiliki kelapangan rezeki, hal ini jelas ketika Rasulullah melarang mendekati tempat shalat, larangan itu menunjukkan bahwa hal itu merupakan meninggalkan  kewajiban, seakan Beliau mengatakan shalatnya tidak bermanfaat jika meninggalkan kewajiban ini. Juga karena firmanNya: “maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” Dalam hadits Mikhnaf bin Sulaim secara marfu’ (sampai kepada Rasulullah) berbunyi: “ (wajib) atas penduduk setiap rumah pada tiap tahunnya untuk berkurban.” Lafaz hadits ini menunjukkan wajibnya. Pendapat yang menyatakan wajib adalah dari Imam Abu Hanifah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Jika kalian memasuki tanggal 10 (Dzulhijjah) dan hendak berkurban maka janganlah dia menyentuh   sedikit pun dari  rambutnya dan kulitnya.”  (HR. Muslim No. 1977)

Hadits tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa berkurban itu terkait dengan kehendak, manusianya oleh karena itu Imam Asy Syafi’i menjadikan hadits ini sebagai dalil tidak wajibnya berkurban alias sunah.

Berikut ini keterangannya:

Berkata Asy Syafi’i: “Sesungguhnya sabdanya “lalu kalian berkehendak” menunjukkan ketidak wajibannya. (Subulus Salam, 4/91)

Bagaimana dengan patungan qurban?

            Ust. Mumu Munawi, S.Pd.I sudah menjelaskan bahwa diperbolehkan patungan untuk biaya pemotongan hewan. Namun, pemotongan hewan dari dana yang sudah terkumpul tersebut tidak dinamai dengan berqurban. Hanya sedekah biasa saja. Karena untuk satu ekor kambing itu berlaku untuk satu orang (termasuk keluarganya) dan satu ekor sapi atau unta berlaku untuk tujuh orang (termasuk keluarganya).

Lantas bagaimana supaya dapat pahala qurban? Bisa saja, dana yang sudah terkumpul tersebut diberikan kepada satu orang untuk biaya berqurban. Maka orang berqurban itu mendapatkan pahala qurban dan yang telah bersedakah mendapatkan pahala sedekah.

Sumber:

http://www.ustadzfarid.com/2011/10/keutamaan-bulan-dzulhijjah-dan-amalan.html

http://edukasi.kompasiana.com/2011/11/05/hewan-kurban-patungan-yang-qurban-siapa/

http://edukasi.kompasiana.com/2011/11/05/hewan-kurban-patungan-yang-qurban-siapa/

One thought on “Bagaimana Dengan Patungan Hewan Qurban?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s