Pedagang Sayur itu, Ternyata…

Wah, Ada pedagang sayur keliling berhenti tepat di depan rumah saya. Istriku dan ibu-ibu yang berada di sekitar rumahku langsung menghampirinya. Pedagang itu masih terlihat muda. Sayapun tak terlalu menghiraukannya. Biarlah ibu-ibu yang sibuk berbelanja.

Ini adalah pertemuan saya pertama kali di Vila Gading Permai (VGP) dengan seorang pedagang sayur keliling. Memang sudah banyak pedagang yang  keliling di VGP seperti pedagang tanaman, pedagang ayam, dan mungkin ada pedagang lainnya yang belum saya tahu.

***

Kemarin, tepatnya hari  Kamis, 18 oktober 2012, pedagang sayur itu kembali lewat di depan rumah saya.

“Bu, sayur…sayur…” teriak pedagang itu sambil memberhentikan motornya.

“Nggak dulu, Mas!” jawab istriku sambil mengerjakan jahitan mukenanya.

kamarin istriku memang tidak memasak. Masih ada sisa makanan hari sebelumnya. Jadi, kemarin istriku tinggal memanaskannya saja.

Pagi tadi istriku membeli nasi uduk di warung Bu Nia. Warung Bu Nia tepat berada di depan pintu gerbang kedua VGP. Sebelum ke warung Bu Nia, istriku berpesan kepadaku.

“Bi, kalo ada pedagang sayur minta tunggu dulu ya…” kata istriku sambil menuntun anakku, Hanif, yang meminta ikut ke warung Bu Nia.

Akupun menunggu pedagang sayur tersebut sambil menghapal beberapa ayat al-Qur’an di ruang tamu. Pagi hari sebelum berangkat kerja sangat pas bagiku untuk menambah hapalan al-Qur’an. Lebih pas lagi jika menghapal setelah shalat shubuh.

Istriku sudah tiba dari warung Bu Nia sambil membawa satu kantong plastik yang isinya satu bungkus nasi uduk dan beberapa gorengan. Kamipun menghabiskan makanan itu.

***

Akhirnya pedagang sayur itu datang juga. Seperti biasa ia berhenti di depan rumahku. Ibu-ibupun langsung menghampirinya termasuk istriku. Sedangkan aku sibuk dengan membersihkan motor.

Setelah ibu-ibu belanja, pedagang sayur itu merapikan kembali dagangannya. Akupun penasaran ingin lebih kenal dengannya.

“Mas, tinggal dimana?” tanyaku sambil mengelap knalpot motor yang kotor.

“Di belakang, Pak?” jawabnya sambil mengarakan telunjuk ke rumahku.

“Belakang mana? Masih wilayah Jabon?” tanyaku lagi sambil mengernyitkan dahi.

“Iya, di belakang rumah Bapak, saya di blok C2” kata pedagang itu sambil tersenyum.

“Oh…” Kataku sambil mengangguk-anggukkan kepala.

Ternyata, pedagang sayur itu tinggal di belakang rumahku. Tepatnya di samping rumah Pak Heru Pratomo, Koordinator Blok C2. Baru beberapa hari ini ia mengontrak di Blok C2. Namanya Susmanto. Masih bujang.

Ciputat, 19 Oktober 2012, Ba’da Jum’atan.

7 thoughts on “Pedagang Sayur itu, Ternyata…

  1. Sory bru share skrng..
    Betul pak Maryu dia kntrak d sblh rmh sy , tmpo hri dtg sma ortu nitip” sm sy , susmanto asal dr Tegal ortunya jg dgng syr d Inkopad kmdian dia sdh lapor k kordinator kita bp Rusdi…
    Heru P
    C2 / 8

  2. Sudah lama memang mendengar kabar bahwa akan ada tukang sayur yang mengontrak di vgp, tapi saya gak nyangka kalo akan berjualan juga di vgp, saya pikir beliau jualan dimana.. gitu.. trus ngontraknya di vgp, hehe..🙂 Tapi bagus lah, jadi istri juga gak usah jauh2 belanjanya, asal jangan mahal2 ya mas sus.. hehe..😀

    • Kabar dari istri saya, memang lebih murah dibanding warung yg lain. Tapi apa itu dalam rangka promosi, yah… mudah2an memang selamanya lebih murah dari warung lainnya

  3. Pingback: Pedagang Sayur itu, Ternyata… « Marhanif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s