Bolehkah Jualan di Dalam Masjid?

Setiap tempat biasanya sudah menetapkan sejumlah aturan. Contoh saja kantor tempat kita bekerja atau Perumahan VGP sendiri yang memiliki aturan atau tata tertib yang sudah disepakati bersama. Begitu pula dengan tempat suci yang bernama masjid.

Aturan di dalam masjid atau yang biasa kita kenal dengan adab di dalam masjid bukan sembarang orang yang menetapkan peraturannya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam sendiri yang menyampaikan hal yang dilarang dilakukan di dalam masjid.

Dari Amru bin Sy’aib ra dari ayahnya dari kakeknya berkata, “Rasulullah SAW melarang berjual beli di dalam masjid.” (HR Ahmad dalam Musnadnya dan Abu Daud)

Disepakati sebagian besar mazhab bahwa melakukan transaksi (baik jual-beli, sewa-menyewa, dan sejenisnya) di dalam masjid hukumnya makruh, bahkan menurut mazhab Hanbaliyah haram.

Berikut ini masing-masing pendapat mazhab tersebut:

Mazhab Hanafi, mazhab ini berpendapat transaksi jual-beli dan sewa-menyewa di dalam masjid hukumnya makruh. Yang diperbolehkan melakukan akad di dalam masjid adalah akad hibah/pemberian dan sejenisnya. Disunahkan melakukan akad nikah di dalam masjid.

Mazhab Maliki, jual-beli makruh dilakukan di dalam masjid jika bisa mengganggu para jama’ah. Jika tidak mengganggu jamaah, maka hukumnya tidak makruh, mubah. Untuk akad hibah dan nikah boleh dilakukan di dalam masjid, bahkan untuk akad nikah hukumnya sunnah.

Mazhab Syafi’i, mazhab ini melarang (mengharamkan) menjadikan masjid sebagai tempat transaksi jual-beli jika dengan hal ini bisa mengurangi wibawa masjid. Namun jika tidak mengurangi wibawanya maka jual-beli di masjid hukumnya makruh. Akad nikah boleh dilakukan di dalam masjid.

Mazhab Hanbali, mazhab ini melarang (mengharamkan) masjid sebagai tempat jual-beli dan sewa-menyewa. Seandainya terjadi, maka hukumnya batal, jual-belinya tidak sah. Sunnah hukumnya melakukan akad nikah di masjid.

Di sisi lain, larangan untuk berjual beli di dalam masjid sesunguhnya berlaku bila dilakukan di dalam wilayah ‘suci’ dan ‘sakral’ yang ada di dalam masjid. Di luar itu, meski masih merupakan asset masjid, namun tidak termasuk wilayah ‘suci’ dan ‘sakral’, sehingga hukum larangan itu tidak berlaku.

Sumber:
http://www.rumahfiqih.com/ust/e2.php?id=1174463318
http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&view=article&catid=1:tanya-jawab&id=648:berdagang-di-dalam-masjid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s