Kiblat dalam sholat – oleh : Ust. Mumu Munawi S.Pd.i

Menghadap kiblat merupakan salah satu syarat sah sholat, kecuali sholat yang dilakukan dalam dua kondisi, yang pertama sholat dalam keadaan perang sedang berkecamuk, dan yang kedua sholat sunnah saat dalam perjalanan. Firman Allah SWT : 1

“Dan dari mana saja kamu keluar, maka hadapkanlah wajahmu kearah Masjidil haram. Dan dimana saja kamu sekalian berada, maka hadap kanlah wajahmu kearahnya..”

Berdasarkan ayat tersebut para ulama telah sepakat bahwa kiblat merupakan salah satu syarat sah sholat, artinya orang yang sholatnya tidak menghadap kiblat dan yang bersangkutan bukan dalam keadaan perang berkecamuk atau bukan sholat sunnah saat dalam perjalanan, maka sholatnya tidak sah.

Berkaitan dengan masalah kiblat, ada dua pendapat ulama mayoritas tentang sholat dengan menghadap kiblat, yaitu :

  1. Menghadap bangunan fisik ka’bah (‘ain al-ka’bah)
  2. Menghadap arahka’bah (jihat al-ka’bah)

1. ‘Ain Al-Ka’bah

HaditsIbnu Abbas ra sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim adalah sebagai berikut :

2

“Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW memasuki Ka’bah kemudian keluar lalu sholat duaraka’at dengan menghadap ka’bah. Setelah itu, beliau bersabda : ‘Ini (bangunan ka’bah) adalah kiblat.”

Hadits tersebut diberlakukan bagi orang yang sholatnya melihat bangunan Ka’bah, artinya syarat wajib bagi orang yang dapat melihat Ka’bah untuk menghadap bangunan Ka’bah pada ketika sholat.

Adapun sebagian minoritas ulama yang berpendapat bahwa wajib mengadap fisik bangunan Ka’bah pada saat sholat baik itu ketika melihat Ka’bah ataupun tidak meliha Ka’bah merupakan dalil yang lemah (marjuh), karena sebagian besaru lama berpendapat bahwa yang wajib menghadap bangunan Ka’bah adalah orang yang sholatnya melihat langsung bangunan Ka’bah, akan tetapi bagi orang yang sholatnya tidak melihat Ka’bah seperti di beberapa wilayah di luar kota Mekkah maka kiblatnya cukup menghadap kearah Ka’bah saja, tidak harus persis menghadap bangunan Ka’bah.

2.         Jihat Al-Ka’bah

Para sahabat Nabi Muhammad SAW di Madinah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kiblat mereka dalam sholat, maka Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah :

3

“Arah antara timur dan barat adalah kiblat.” (HR. Al Tirmidzi)

Berdasarkan Google Map, kota Mekkah terletak pada 41 derajat dari garis timur Greenwich. Sedangkan kota Madinah terletak pada 39 derajat dari garis timur Greenwich. Berdasarkan teori ini, penduduk Madinah ketika sholat wajib menghadap kearah selatan dengan miring ketimur sebanyak 2 derajat. Sementara Rasulullah SAW bersabda : “Arah antara timur dan barat adalah kiblat.” Hadits ini memberikan pengertian bahwa penduduk Madinah dan sekitarnya shalat dengan menghadap arah selatan mana saja. Karena kata 4 dalam hadits tersebut menunjukkan pengertian umum. Dan para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan sabda Nabi ‘arah antara timur dan barat’ adalah arah selatan mana saja. Terkadang kiblat mereka tidak tepat mengenai banguna Ka’bah, bahkan boleh jadi menghadap Masjid Jeddah atau bangunan lain yang berada di luar kota Mekkah. Jika kenyataannya demikian, apakah dapat dikatakan tidak sah para sahabat Nabi dan penduduk Madinah yang sudah mengerjakan sholat menghadap kearah selatan dengan kemiringan kurang atau lebih dari 2 derajat. Padahal diantara sahabat Nabi, ada sepuluh orang yang sudah dijamin masuk surga oleh Allah dan rasul-Nya.

Berdasarkan hadits Nabi tersebut, Mayoritas ulama telah sepakat bahwa sholat penduduk Madinah yang menghadap kearah selatan adalah sah. Meskipun sholat mereka tidak tepat menghadap bangunan Ka’bah atau bahkan kota Mekkah Al-Mukarramah sekalipun. Kalau kita analogikan (qiyaskan) dengan Indonesia yang letaknya di sebelah timur kota Mekkah, maka kiblatnya menghadap kearah barat mana saja sudah bisa dikatakan sah, tidak wajib menhadap arah barat laut dengan kemiringan 21 derajat sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang berdalil dengan menggunakan Google Map, bukan dengan dalil syar’i. Namun berdasarkan Google Map, sholat mereka tidak sah, karena mereka tidak tepat menghadap bangunan Ka’bah atau Mekkah Al-Mukarramah.

Pengambilan fatwa dalam hal apapun termasuk di dalamnya tentang kiblat harus berdasarkan dalilsyar’i yang bersumber pada empat sumber hukum Islam, yaitu: Al Qur’an, Sunnah (Hadits), Qiyas (Analogi dari Al Qur’an dan Sunnah), dan Ijma’ (kesepakatan mayoritas ulama).

Al Qur’an danSunnah tidak pernah menyuruh atau mewajibkan orang yang sedang sholat untuk menghadap pada bangunan Ka’bah atau Mekkah Al-Mukarramah. Bahkan kata ‘syathr’ dalam Al Qur’an ditafsirkan sebagai arah oleh Rasulullah sendiri, bukan bangunan Ka’bah atau Mekkah Al-Mukarramah. Bahkan para ulama mazhab yang empat, Imam Nawawi dalam kitab Majmu’, Imam Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni, dan Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Syathr dalam Al Qur’an adalah arah, artinya bahwa kiblat orang yang sholatnya tidak menghadap bangunan Ka’bah adalah cukup dengan menghadap kearah Ka’bah itu berada, tidak harus persis menhadap bangunan Ka’bah atau Mekkah Al-Mukarramah. Sedangkan Google Map bukan dalil syar’i, namun hanya digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai salah satu sumber penentu hukum sah atau tidak sah dalam sholat. Dan orang yang berpendapat bahwa penentuan sah atau tidak sah dalam sholat dengan acuan Google Map adalah kesalahan besar, karen akiblat yang mereka maksud adalah bangunan Ka’bah itu sendiri. Padahal dalil yang mengatakan bahwa kiblat orang yang sholatnya tidak melihat Ka’bah harus menghadap bangunan Ka’bah adalah dalil yang lemah (marjuh).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s